
Simbol dan slogan prokemerdekaan Aceh kembali muncul ke ruang publik setelah penanganan banjir dan tanah longsor akhir 2025 dinilai buruk oleh warga. Padahal, dua dekade lalu, bencana tsunami justru menjadi katalis utama yang mempercepat Perjanjian Helsinki 2005 dan mengakhiri konflik bersenjata. Kebangkitan simbol ini menunjukkan bagaimana sentimen separatis dihidupkan kembali oleh kekecewaan terhadap negara saat krisis.
Peristiwa ini mengingatkan bahwa rekonsiliasi politik tidak otomatis menghapus identitas khas atau menghentikan negosiasi nasionalisme yang terus berjalan. Meski demikian, kemunculan atribut GAM belum tentu berarti kembalinya perang bersenjata, melainkan indikasi rapuhnya kepercayaan warga terhadap kehadiran negara. Kita perlu melihat ini sebagai ujian daya tahan perdamaian jangka panjang, bukan sekadar ancaman keamanan sesaat.
Leave a comment